Pendidikan Pancasila: Saatnya Turun dari Buku ke Jalanan

Pendidikan Pancasila: Saatnya Turun dari Buku ke Jalanan

Oleh : Firmansah
Prodi : Ilmu Hukum Unpam Serang
Dosen Pengampu: Dede Ika Murofikoh S.H, M.H

OPINI – Pendidikan Pancasila jadi mata pelajaran wajib dari SD sampai kuliah. Tujuannya mulia: membentuk karakter warga negara yang sesuai jati diri bangsa. Tapi setelah puluhan tahun diajarkan, kenapa masalah intoleransi, korupsi, dan individualisme masih marak? Ini tanda ada yang salah, bukan di Pancasilanya, tapi di cara mendidiknya.

Menurut  saya Pendidikan Pancasila gagal karena kejebak di ruang kelas. Pancasila diajarkan sebagai hafalan, bukan pengalaman. Akibatnya siswa “lulus ujian tapi gagal jadi manusia Pancasila”.

Coba lihat realita. Banyak siswa hafal bunyi Sila ke-2 “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, tapi di sekolah masih ada bullying, ejek fisik, dan grup WA yang isinya nge-gosip. Banyak mahasiswa hafal Sila ke-5 “Keadilan Sosial”, tapi waktu kerja kelompok tetap ada yang “numpang nama” doang. Hafalan dan kelakuan nggak nyambung.

Akar masalah pertama: metode guru. 90% waktunya ceramah + catat + hafal. Siswa diposisikan jadi ember kosong yang diisi teori. Padahal Pancasila itu ilmu praktik. Kamu nggak akan jago renang kalau cuma baca buku renang. Sama, kamu nggak akan jadi toleran kalau cuma baca definisi “toleransi”.

Akar masalah kedua: sistem nilai. Yang dapat A itu yang paling rapi catatannya dan paling lancar nyebut butir-butir sila. Padahal yang harusnya dapat A itu siswa yang berani bela teman yang dibully, yang jujur ngaku salah, yang mau rugi sedikit demi kelompok. Nilai kita salah ukur.

Dampak jangka pendeknya: siswa benci sama Pancasila. Mereka ngerasa Pancasila ngebosenin, kuno, nggak relate sama TikTok dan game. Padahal isinya justru jawab semua masalah anak muda: soal mental health ada di Sila 2, soal toxic di medsos ada di Sila 3, soal kerja kelompok ada di Sila 4.

Dampak jangka panjangnya lebih ngeri: NKRI terancam. Indonesia itu kayak kaca patri, indah karena beda warna. Lem-nya cuma Pancasila. Kalau generasi muda nggak ngerti lem itu, gampang dipecah hoaks, SARA, dan politik identitas. Nggak butuh perang, cukup generasi yang nggak paham arti “Bhinneka Tunggal Ika”.

Solusinya harus berani. Pertama, ubah metode 70% praktik, 30% teori. Sila 1: siswa lintas agama bikin proyek sosial bareng. Sila 3: simulasi musyawarah milih ketua kelas dengan aturan nggak boleh nyerang pribadi. Sila 5: kerja bakti kelas yang nilainya dibagi adil sesuai kerja, bukan rata.

Kedua, ubah penilaian. Guru dan kampus harus berani kasih nilai tinggi ke siswa yang karakternya Pancasila, walau nilai ulangan pas-pasan. Sebaliknya, siswa pinter tapi tukang nyontek, tukang bully, harusnya ngulang. Karena tujuan akhir pendidikan bukan IPK 4.00, tapi jadi manusia.

Tugas ini bukan cuma guru PKN. Orang tua di rumah harus kasih contoh ngantri, nggak nyogok, toleran sama tetangga beda agama. Komunitas, selebgram, game developer juga harus nyebarin nilai Pancasila lewat konten yang relate. Pendidikan karakter itu ekosistem, bukan tugas 1 mapel.

Kesimpulannya, Pancasila bukan pelajaran mati. Pancasila itu GPS bangsa. Kalau GPS-nya cuma kita pajang di dashboard tapi nggak pernah dinyalain, kita pasti nyasar. Saatnya Pendidikan Pancasila turun dari buku LKS ke jalanan, ke grup WA, ke cara kita nge-tweet.

Mulai dari kita. Karena Indonesia 2045 ada di tangan anak muda yang hari ini belajar Pancasila bukan buat ujian, tapi buat hidup.

Post Comment

You May Have Missed