Mengembalikan Semangat Pancasila Di Era Globalisasi, Menjaga Jati Diri Bangsa Di Tengah Perubahan Zaman

Mengembalikan Semangat Pancasila Di Era Globalisasi, Menjaga Jati Diri Bangsa Di Tengah Perubahan Zaman

Oleh : Zakiatul Ambiya
Prodi : Ilmu Hukum Unpam Serang
Dosen Pengampu: Siti Maspupah S.H, M.H

OPINI – Di tengah derasnya arus globalisasi, bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan besar: bagaimana tetap maju mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Kemajuan teknologi, akses informasi tanpa batas, dan budaya global telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah nilai-nilai Pancasila masih benar-benar hidup dalam keseharian kita?

Menurut saya, Pancasila saat ini bukan hanya perlu dipahami sebagai dasar negara yang dihafalkan di sekolah, tetapi harus kembali dihidupkan sebagai pedoman nyata dalam kehidupan masyarakat. Sebab, tantangan zaman modern justru menunjukkan bahwa bangsa Indonesia semakin membutuhkan semangat Pancasila sebagai fondasi moral dan sosial.

Globalisasi memang memberikan banyak manfaat. Teknologi mempermudah komunikasi, pendidikan menjadi lebih mudah diakses, dan peluang ekonomi semakin terbuka. Akan tetapi, perubahan ini juga membawa dampak yang tidak selalu positif. Kita mulai melihat meningkatnya sikap individualisme di tengah masyarakat. Banyak orang lebih sibuk dengan urusan pribadi dibandingkan membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Interaksi sosial yang dulu hangat perlahan tergantikan oleh hubungan virtual yang kadang terasa jauh dari nilai kebersamaan.

Fenomena tersebut menjadi tanda bahwa semangat gotong royong—yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia—mulai mengalami pergeseran. Dulu, masyarakat dengan sukarela saling membantu ketika ada kegiatan bersama, tetapi kini sebagian orang lebih memilih fokus pada kepentingan masing-masing. Padahal, kekuatan bangsa Indonesia sejak dahulu terletak pada semangat kebersamaan, bukan pada persaingan individual yang berlebihan.

Selain itu, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan persoalan baru berupa penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konflik di media sosial. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa terlebih dahulu diperiksa kebenarannya. Akibatnya, masyarakat mudah terpecah karena perbedaan pandangan politik, agama, maupun sosial. Dalam situasi seperti ini, nilai persatuan dan kemanusiaan dalam Pancasila seharusnya menjadi pegangan utama agar masyarakat lebih bijak dalam menggunakan teknologi.

Saya juga melihat bahwa toleransi sebagai kekuatan bangsa mulai menghadapi tantangan serius. Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya. Namun, masih muncul sikap intoleran yang berpotensi merusak keharmonisan sosial. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka semangat persatuan yang menjadi fondasi bangsa dapat melemah. Oleh sebab itu, menghormati perbedaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bersama agar kehidupan berbangsa tetap damai.

Di sisi lain, pengaruh budaya asing juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak dapat dimungkiri bahwa budaya luar memiliki banyak sisi positif yang bisa dipelajari, seperti kedisiplinan, inovasi, atau etos kerja. Namun, tidak semua budaya asing sesuai dengan nilai dan karakter bangsa Indonesia. Meniru gaya hidup tanpa mempertimbangkan norma sosial dapat membuat generasi muda kehilangan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Kita sering melihat anak muda lebih mengenal budaya populer luar negeri dibandingkan sejarah atau tradisi bangsa sendiri. Kondisi ini tentu memerlukan perhatian serius.

Karena itu, saya berpendapat bahwa mengembalikan semangat Pancasila harus dimulai dari generasi muda. Mereka adalah kelompok yang paling dekat dengan perkembangan teknologi sekaligus calon pemimpin masa depan. Generasi muda perlu menjadikan Pancasila sebagai panduan dalam bersikap, bukan sekadar materi pelajaran. Misalnya, menggunakan media sosial secara bijak, menyebarkan informasi positif, menghindari ujaran kebencian, serta menjaga etika dalam berkomunikasi digital.

Selain itu, semangat gotong royong juga perlu dihidupkan kembali melalui kegiatan sosial, kerja sama komunitas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Hal sederhana seperti membantu sesama, menghormati perbedaan pendapat, serta aktif dalam kegiatan masyarakat sebenarnya merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila.

Kecintaan terhadap budaya dan produk dalam negeri juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas bangsa. Bangga menggunakan produk lokal, melestarikan tradisi daerah, dan mempelajari sejarah bangsa bukan berarti menolak modernisasi, melainkan menunjukkan bahwa Indonesia mampu berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa Pancasila tetap relevan di era globalisasi. Bahkan, di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, Pancasila justru semakin dibutuhkan sebagai pedoman untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai-nilai kebangsaan. Kemajuan teknologi boleh terus berkembang, budaya asing boleh masuk, tetapi identitas bangsa Indonesia tidak boleh hilang.

Mengembalikan semangat Pancasila bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga pendidikan, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu mempertahankan nilai dan jati dirinya di tengah perubahan zaman.

Post Comment

You May Have Missed