Lunturnya Nilai Pancasila di Era Modern: Ketika Teknologi Mengubah Cara Hidup dan Cara Berbangsa
Oleh: Firman Nurallam
Fakultas : Ilmu Hukum UNPAM Serang Dosen Pengampu: Risky Amelia,S.H,.M.H
Kemajuan teknologi telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, bekerja, dan memperoleh informasi. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan besar berupa memudarnya pengamalan nilai-nilai Pancasila yang menjadi fondasi karakter dan identitas bangsa Indonesia.
Di sebuah taman kota, sekelompok remaja duduk bersama di bangku yang sama. Namun, tidak ada percakapan hangat di antara mereka. Masing-masing sibuk menatap layar telepon genggam, tertawa karena video yang mereka lihat, atau asyik membalas pesan di media sosial. Ironisnya, mereka lebih aktif berinteraksi dengan orang yang berada jauh daripada dengan teman yang duduk di sampingnya.
Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat di era modern. Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Informasi kini dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih mudah, dan berbagai aktivitas dapat dilakukan secara daring. Di satu sisi, teknologi memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain, perubahan ini perlahan memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat.
Semangat gotong royong mulai berkurang, rasa peduli terhadap sesama semakin menurun, dan perbedaan pendapat di media sosial sering kali berubah menjadi konflik yang dipenuhi ujaran kebencian. Padahal, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi persatuan, toleransi, dan musyawarah sebagaimana tercermin dalam nilai-nilai Pancasila.
Permasalahan
Lunturnya nilai Pancasila di era modern dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Pertama, derasnya arus globalisasi membawa budaya asing yang tidak semuanya sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Tanpa kemampuan menyaring pengaruh tersebut, masyarakat dapat kehilangan identitas kebangsaannya.
Kedua, penggunaan media sosial yang kurang bijak menyebabkan maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber (cyberbullying), dan meningkatnya intoleransi. Perbedaan pendapat sering kali disikapi dengan emosi, bukan dengan musyawarah.
Ketiga, budaya individualisme semakin berkembang. Kemudahan teknologi membuat banyak aktivitas dapat dilakukan sendiri sehingga interaksi sosial dan semangat gotong royong perlahan mulai memudar.
Keempat, pendidikan karakter belum sepenuhnya menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila masih sering dipahami sebagai materi pelajaran, bukan sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi krisis karakter yang berdampak pada melemahnya persatuan dan berkurangnya rasa cinta terhadap bangsa.
Solusi
Menghadapi tantangan tersebut, diperlukan kerja sama seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila.
Keluarga memiliki peran penting sebagai tempat pertama dalam menanamkan sikap jujur, disiplin, toleran, dan peduli terhadap sesama. Sekolah juga perlu memperkuat pendidikan karakter melalui pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, masyarakat harus meningkatkan literasi digital agar mampu menggunakan media sosial secara bijak, memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, serta menghormati perbedaan pendapat. Teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana mempererat persatuan, bukan untuk memecah belah masyarakat.
Pemerintah, tokoh masyarakat, dan para pemimpin juga harus memberikan teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui tindakan nyata, sehingga dapat menjadi contoh bagi generasi muda.
Yang tidak kalah penting, generasi muda perlu kembali menumbuhkan semangat gotong royong, aktif dalam kegiatan sosial, menghargai keberagaman, dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Opini Penulis
Kemajuan teknologi tidak dapat dihentikan, dan memang tidak seharusnya dihentikan. Tantangan yang sesungguhnya adalah memastikan bahwa kemajuan tersebut berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai Pancasila. Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang menguasai teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga karakter, persatuan, dan kemanusiaannya.
Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol atau hafalan. Nilai-nilainya harus hadir dalam setiap tindakan, keputusan, dan cara masyarakat berinteraksi. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi negara yang modern tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berlandaskan persatuan, gotong royong, keadilan, dan kemanusiaan.



Post Comment