Mahasiswa Administrasi Negara Universitas Pamulang Kampus Serang Tingkatkan Literasi Digital Warga Desa Sukabares untuk Cegah Hoaks dan Penipuan Berbasis AI
SERANG, lexbanten.com – Arus perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara konvensional kini beralih ke ruang digital, mulai dari komunikasi, pendidikan, perdagangan, hingga akses informasi. Di satu sisi, kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan dan membuka peluang yang luas bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan secara cepat. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya penyebaran hoaks, disinformasi, serta berbagai modus penipuan digital yang semakin canggih dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Program Studi Administrasi Negara S-1 Universitas Pamulang Kampus Serang untuk hadir memberikan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang mengangkat tema “Edukasi dan Peningkatan Literasi Digital Masyarakat dalam Menyaring Informasi serta Mencegah Hoaks dan Penipuan Berbasis Artificial Intelligence (AI)”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin, 18 Mei 2026, bertempat di Mushola Al-Fath, Kampung Sitembaga, Desa Sukabares, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang. Sejak sore hari, mahasiswa bersama warga setempat telah melakukan berbagai persiapan guna memastikan kegiatan berjalan dengan lancar. Memasuki waktu pelaksanaan pada pukul 19.30 WIB, masyarakat mulai berdatangan memenuhi area kegiatan. Tercatat sebanyak 77 peserta mengikuti kegiatan ini yang terdiri atas perangkat desa, tokoh masyarakat, pemuda, ibu rumah tangga, serta warga yang aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran peserta dari berbagai kelompok usia dan latar belakang tersebut menunjukkan bahwa isu literasi digital telah menjadi kebutuhan bersama yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Antusiasme peserta yang tinggi sejak awal kegiatan juga menjadi indikator bahwa masyarakat memiliki kesadaran untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dipimpin oleh Tia Silvia sebagai Ketua Pelaksana bersama tim yang terdiri atas Albarika Kharisma Safira, Amanda Dewiyanti Agustin, Rafina Safri Dewi, dan Siti Hujrotun Shopiah. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di bawah bimbingan dosen pendamping Muara Torang Hadomuan, S.Ag., M.A.P. yang sejak awal memberikan arahan dan dukungan kepada mahasiswa dalam merancang program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam bentuk pengabdian nyata yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Tia Silvia menyampaikan bahwa pemilihan tema literasi digital bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan hasil pengamatan dan komunikasi yang dilakukan sebelum kegiatan berlangsung, masih banyak masyarakat yang memperoleh informasi dari media sosial tanpa melakukan proses verifikasi terlebih dahulu. Kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan, terutama ketika informasi yang diterima ternyata merupakan hoaks atau bahkan bagian dari modus penipuan digital. Menurutnya, kemampuan menggunakan telepon pintar dan media sosial saja tidak cukup.
Masyarakat juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menilai apakah suatu informasi layak dipercaya atau tidak.
“Saat ini hampir semua orang memiliki akses terhadap media sosial dan internet. Informasi datang begitu cepat dan silih berganti setiap hari. Namun yang perlu kita pahami adalah tidak semua informasi yang beredar memiliki kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, kami ingin mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain,” ujar Tia Silvia di hadapan peserta.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Berbeda dengan seminar formal yang cenderung satu arah, kegiatan ini dirancang secara interaktif agar masyarakat merasa nyaman untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman. Para pemateri menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga materi yang disampaikan dapat diterima oleh seluruh peserta, termasuk mereka yang belum terbiasa dengan istilah-istilah teknologi digital. Pendekatan tersebut terbukti efektif karena sejak awal kegiatan peserta terlihat aktif menyimak dan menunjukkan ketertarikan terhadap materi yang diberikan.
Pada sesi utama, peserta diperkenalkan dengan konsep dasar literasi digital dan pentingnya kemampuan menyaring informasi di era teknologi modern. Pemateri menjelaskan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat elektronik atau mengakses internet, melainkan juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab. Masyarakat diajak untuk memahami bahwa setiap informasi yang diterima perlu dipertanyakan sumbernya, dicek keabsahannya, dan dibandingkan dengan sumber lain yang lebih terpercaya sebelum diyakini sebagai kebenaran.
Pembahasan kemudian berlanjut pada perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang saat ini semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan. Para peserta diberikan gambaran mengenai manfaat AI dalam membantu pekerjaan manusia, mempercepat proses pelayanan, hingga mendukung berbagai inovasi di bidang pendidikan dan kesehatan. Namun, pemateri juga menjelaskan bahwa teknologi tersebut dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan informasi palsu yang tampak sangat meyakinkan.
Penjelasan mengenai fenomena deepfake, manipulasi suara, hingga pembuatan gambar dan video palsu menjadi salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta.
Tidak sedikit peserta yang mengaku baru mengetahui bahwa teknologi saat ini memungkinkan seseorang membuat video atau rekaman suara yang menyerupai orang lain. Beberapa warga bahkan terlihat terkejut ketika mengetahui bahwa foto dan video yang mereka lihat di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Momen tersebut menjadi titik penting dalam kegiatan karena masyarakat mulai menyadari bahwa ancaman informasi palsu tidak lagi hanya berbentuk tulisan atau pesan berantai, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk visual yang tampak sangat nyata.
Selain membahas hoaks, tim PKM juga memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk penipuan digital yang sering terjadi di tengah masyarakat. Berbagai contoh kasus nyata diperlihatkan kepada peserta, mulai dari pesan undian berhadiah palsu, penawaran bantuan sosial fiktif, tautan yang mengatasnamakan instansi tertentu, hingga modus pencurian data pribadi melalui aplikasi pesan singkat.
Penjelasan tersebut disampaikan secara rinci agar masyarakat dapat mengenali ciri-ciri penipuan dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menemukan informasi yang mencurigakan.
Sesi diskusi menjadi bagian yang paling hidup dalam kegiatan ini. Banyak peserta yang secara terbuka menceritakan pengalaman mereka ketika menerima pesan-pesan mencurigakan melalui WhatsApp maupun media sosial.
Seorang ibu rumah tangga bahkan mengaku hampir memberikan data pribadinya karena percaya terhadap informasi yang mengatasnamakan lembaga keuangan tertentu. Beruntung, sebelum mengambil keputusan, ia sempat berkonsultasi dengan anggota keluarganya sehingga terhindar dari potensi penipuan. Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa ancaman digital benar-benar dekat dengan kehidupan masyarakat dan dapat menimpa siapa saja.
Dosen pendamping kegiatan, Muara Torang Hadomuan, S.Ag., M.A.P., dalam sambutannya menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk turut membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan zaman.
Dosen pendamping kegiatan, Muara Torang Hadomuan, S.Ag., M.A.P., dalam sambutannya menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk turut membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan zaman.
Menurutnya, literasi digital saat ini menjadi kebutuhan yang sangat penting karena hampir seluruh aktivitas manusia telah terhubung dengan teknologi digital.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat belajar dan menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi juga harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar memahami kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan solusi yang bermanfaat melalui edukasi yang sederhana namun relevan dengan kondisi saat ini,” ungkapnya.
Menurut Muara Torang Hadomuan, kemampuan menyaring informasi merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki setiap warga negara. Apabila masyarakat mampu berpikir kritis dan melakukan verifikasi informasi secara mandiri, maka risiko penyebaran hoaks dan penipuan digital dapat ditekan secara signifikan. Oleh karena itu, kegiatan literasi digital perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Dari total 77 peserta yang hadir, sebagian besar mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Banyak peserta yang mencatat materi penting, mengajukan pertanyaan, serta berdiskusi secara aktif dengan pemateri mengenai berbagai pengalaman yang mereka alami saat menggunakan media sosial dan aplikasi digital.
Tingginya partisipasi peserta menunjukkan bahwa masyarakat memiliki keinginan kuat untuk memahami perkembangan teknologi dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan di ruang digital. Bahkan setelah sesi resmi berakhir, beberapa peserta masih terlihat berdiskusi dengan mahasiswa mengenai cara membedakan informasi yang valid, mengenali modus penipuan digital terbaru, serta langkah-langkah melindungi data pribadi di internet.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada mitra kegiatan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan yang telah diberikan. Setelah itu, seluruh peserta, panitia, dosen pendamping, dan tokoh masyarakat melakukan sesi foto bersama yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Momen tersebut menjadi simbol kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kesadaran digital yang lebih baik.
Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang Kampus Serang berharap masyarakat Desa Sukabares dapat menjadi lebih cerdas, kritis, dan bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Kemampuan untuk menyaring informasi, memverifikasi kebenaran berita, serta memahami berbagai bentuk penipuan digital diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan di era digital.
Dengan demikian, perkembangan teknologi dan Artificial Intelligence tidak hanya menjadi sumber kemudahan, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa harus terjebak dalam berbagai risiko yang menyertainya



Post Comment