Partisipasi Politik Generasi Muda di Era Digital: Antara Suara dan Sunyi
Oleh : Ageng Shafa Ardila
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Pamulang Serang
Dosen Pengampu: Thea Umbara Sari, M.Pd
OPINI – Generasi muda Indonesia hari ini hidup di antara dua dunia: dunia nyata tempat keputusan politik dibuat di gedung-gedung parlemen, dan dunia maya tempat opini dilontarkan dalam hitungan detik. Di media sosial, kritik terhadap kebijakan publik bisa menjadi tren dalam semalam, tagar bisa menggerakkan ribuan orang turun ke jalan, dan video pendek mampu membongkar isu yang selama ini tertutup rapat. Namun pertanyaannya, apakah riuhnya suara di linimasa benar-benar berbanding lurus dengan partisipasi politik yang substantif?
Fenomena yang terjadi belakangan ini menunjukkan paradoks menarik. Di satu sisi, anak muda semakin vokal mengkritik kebijakan, mengawal isu lingkungan, korupsi, hingga ketimpangan sosial melalui kanal digital. Di sisi lain, tingkat keterlibatan mereka dalam proses politik formal, seperti mengikuti pemilihan umum, bergabung dengan organisasi kemasyarakatan, atau bahkan sekadar memahami mekanisme pemerintahan daerah, justru cenderung menurun. Banyak yang lebih nyaman menjadi penonton sekaligus komentator di balik layar ponsel daripada turun langsung mengawal proses pengambilan kebijakan.
Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya melihat ini sebagai persoalan yang perlu direnungkan bersama. Partisipasi politik bukan hanya soal seberapa keras suara disuarakan, tetapi seberapa jauh suara itu mampu memengaruhi kebijakan secara nyata. Aksi digital memang penting sebagai alat penyadaran publik, namun ia akan kehilangan makna apabila tidak diiringi dengan keterlibatan pada ruang-ruang formal seperti musyawarah desa, forum dengar pendapat dengan DPRD, atau bahkan sekadar memahami anggaran daerah tempat mereka tinggal.
Pemerintah dan lembaga pendidikan, termasuk kampus, memiliki tanggung jawab untuk menjembatani jurang ini. Literasi politik tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori di ruang kelas, tetapi perlu diwujudkan melalui ruang partisipasi yang nyata dan mudah diakses oleh generasi muda. Pelibatan mahasiswa dalam forum kebijakan publik, program magang di lembaga pemerintahan, atau simulasi pengambilan keputusan dapat menjadi jembatan antara semangat digital yang dimiliki anak muda dengan kebutuhan tata kelola pemerintahan yang baik.
Pada akhirnya, suara yang lantang di media sosial akan jauh lebih bermakna apabila disertai dengan langkah konkret di dunia nyata. Generasi muda perlu menyadari bahwa demokrasi tidak cukup dirayakan lewat unggahan dan komentar, tetapi harus dihidupi melalui keterlibatan aktif dalam proses pemerintahan itu sendiri. Sunyi dalam partisipasi formal hanya akan membuat suara yang riuh di dunia maya kehilangan daya pengaruhnya terhadap kebijakan yang sesungguhnya menentukan masa depan bangsa.



Post Comment