Imam Besar Masjidil Haram dari Banten! Inilah Syekh Nawawi al-Bantani, Guru Para Pendiri NU dan Muhammadiyah yang Mendunia

Imam Besar Masjidil Haram dari Banten! Inilah Syekh Nawawi al-Bantani, Guru Para Pendiri NU dan Muhammadiyah yang Mendunia

Dunia Islam mengenal banyak bintang, namun hanya sedikit yang cahayanya tetap benderang melintasi berabad-abad zaman. Salah satunya adalah Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani. Lahir di desa kecil Tanara, Banten, pada tahun 1813, pria bersahaja ini bertransformasi menjadi mercusuar ilmu di jantung kota suci Mekkah dan menyandang gelar mentereng: Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz).

Julukan tersebut bukanlah gelar sembarangan. Syekh Nawawi adalah sedikit dari putra terbaik Nusantara yang dipercaya menjadi Imam Masjidil Haram sekaligus mahaguru bagi ulama-ulama besar di seluruh penjuru dunia pada abad ke-19.

Darah Biru Kesultanan dan Kemandirian Ilmu
Lahir dari pasangan Syekh Umar bin Arabi dan Zubaedah, Nawawi kecil ternyata masih memiliki garis keturunan ke-12 dari Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten sekaligus putra Sunan Gunung Jati. Meski memiliki darah biru kesultanan, hidupnya dihabiskan dalam balutan kesederhanaan dan ketekunan belajar.

Pendidikannya dimulai sejak usia 5 tahun di bawah bimbingan sang ayah. Ketajamannya dalam menyerap bahasa Arab, fiqih, dan tafsir membuatnya sudah mampu mengajar di pinggir pantai Tanara bahkan sebelum usianya genap 15 tahun. Karena muridnya yang kian membludak, ia akhirnya memutuskan berangkat ke Mekkah untuk menimba ilmu sekaligus memperdalam sanad keilmuannya.

Intelektual Raksasa: Menulis 115 Kitab di Tanah Suci
Syekh Nawawi dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Di tengah kesibukannya mengajar di serambi Masjidil Haram, ia berhasil menyusun tidak kurang dari 115 kitab. Karya-karyanya meliputi berbagai disiplin ilmu:

Tafsir: Marah Labid (Tafsir al-Munir) yang hingga kini menjadi rujukan di universitas-universitas Islam dunia termasuk Al-Azhar, Mesir.

Fiqih: Safinatun Najah dan Sullam al-Munajat yang menjadi bacaan wajib santri.

Akhlak & Tasawuf: Nashaihul Ibad, sebuah mahakarya yang melegenda.

Karya-karyanya tidak hanya dibaca di Indonesia, tetapi juga dipelajari di Maroko, Suriah, hingga Yaman. Ketajaman pemikirannya membuat dunia menjulukinya sebagai A’yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah atau Tokoh Ulama Terkemuka Abad 14 Hijriah.

Guru Para Pendiri Bangsa: Penyatu kelompok Nusantara
Pengaruh Syekh Nawawi terhadap Indonesia sangatlah masif melalui tangan-tangan muridnya. Dari “tangan dingin” beliau di Mekkah, lahir tokoh-tokoh besar yang kelak mengubah wajah sejarah Indonesia, di antaranya:

KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama).

KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah).

KH Kholil Bangkalan (Syaikhona Kholil, mahaguru ulama Jawa dan Madura).

Meskipun menetap di Mekkah hingga wafat pada tahun 1897, Syekh Nawawi tidak pernah melupakan akarnya. Ia membuktikan bahwa putra bangsa dari sebuah desa kecil di Banten mampu menduduki puncak tertinggi intelektualitas Islam di pusat dunia, sekaligus menjadi “guru dari segala guru” bagi bangsa Indonesia. (Wikipedia)

Post Comment

You May Have Missed