Bahasa Inggris Hukum dan Tantangan Literasi Global Mahasiswa Hukum Indonesia

Bahasa Inggris Hukum dan Tantangan Literasi Global Mahasiswa Hukum Indonesia

Oleh : Hayati Nupus,S.Pd,.M.Pd
Dosen Bahasa Inggris Prodi Ilmu Hukum
Universitas Pamulang Kampus Serang

OPINI, Di era globalisasi hukum dan keterbukaan informasi lintas negara, penguasaan Bahasa Inggris tidak lagi bersifat tambahan bagi mahasiswa hukum, melainkan telah menjadi kebutuhan akademik dan profesional. Mahasiswa hukum kini tidak hanya dihadapkan pada teks peraturan nasional, tetapi juga pada dokumen hukum internasional, putusan pengadilan asing, jurnal hukum global, serta kontrak lintas yurisdiksi. Dalam konteks inilah, English for Specific Purposes (ESP) berperan strategis dalam menjembatani kompetensi bahasa dan pemahaman substansi hukum.

Namun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah rendahnya literasi Bahasa Inggris hukum yang bersifat kontekstual. Banyak mahasiswa mampu memahami kosakata umum Bahasa Inggris, tetapi kesulitan ketika berhadapan dengan istilah hukum seperti legal standing, burden of proof, atau due process of law. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di fakultas hukum tidak cukup jika hanya berorientasi pada tata bahasa umum, melainkan harus terintegrasi dengan praktik dan wacana hukum yang nyata.

Sebagai dosen ESP di Program Studi Hukum dengan latar Linguistik Terapan, saya melihat bahwa pendekatan pembelajaran berbasis isu aktual (current issues) menjadi solusi yang relevan. Isu seperti perlindungan data pribadi, kejahatan siber, korupsi, hingga pelanggaran HAM internasional dapat dijadikan bahan diskusi, analisis teks, dan simulasi argumentasi hukum dalam Bahasa Inggris. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi bahasa, tetapi juga melatih daya kritis, etika akademik, serta karakter profesional mahasiswa hukum.

Gambar Ilustrasi

Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris berbasis konteks disiplin ilmu mampu meningkatkan motivasi dan pemahaman mahasiswa secara signifikan (Hyland, 2022). Selain itu, penggunaan translanguaging yakni pemanfaatan dua bahasa secara strategis—juga terbukti membantu mahasiswa membangun pemahaman konseptual yang lebih dalam sebelum mengekspresikannya dalam Bahasa Inggris (García & Wei, 2015).

Ke depan, penguatan ESP di fakultas hukum perlu diarahkan pada integrasi bahasa, hukum, dan teknologi. Mahasiswa harus dibiasakan membaca dokumen hukum internasional, menulis ringkasan kasus dalam Bahasa Inggris, serta mempresentasikan analisis hukum secara argumentatif dan etis. Dengan demikian, Bahasa Inggris tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga sarana pembentukan intelektual hukum yang kritis, berdaya saing global, dan berkarakter.

Referensi:
García, O., & Wei, L. (2015). Translanguaging, bilingualism, and bilingual education. The    Handbook of Bilingual and Multilingual Education, 223–240.
Hyland, K. (2022). English for Specific Purposes: What is it and where is it taking us? ESP Today-Journal of English for Specific Purposes at Tertiary Level, 10(2), 202–220.

Post Comment

You May Have Missed